Search

Tampilkan postingan dengan label 30 Hari Menginspirasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 30 Hari Menginspirasi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 10 Agustus 2011

Catatan di Buku BM


Ada sebuah tradisi baru di wilayah jurusan saya. Setelah menyelami masa-masa awal selama 2,5 tahun. Tepat pada awal semester 2, para pemangku jurusan mendapatkan ilham yang diintegrasikan dalam sebuah keputusan ketua jurusan. Keputusan tersebut membawa imbas positif dan negative terhadap mahasiswa. Ada beberapa factor mahasiswa dapat melaksanakan keputusan tersebut, yaitu dosen pembimbing tutorial adalah dosen yang memberi KP dan selalu menaungi sekre tercinta. Dosen selain disebutkan di atas merupakan dosen yang mungkin tidak tahu menahu tentang keputusan besar ini. Para mahasiswa yang mendapati dirinya dibimbing oleh dosen yang disebutkan di atas, maka sudilah kiranya untuk tidak melaksanakan keputusan besar yang mulia ini.
Keputusan ini sebenarnya hanya keputusan yang tidak terduga sebelumnya. Keputusan ini tiba-tiba sudah muncul  dari mulut dosen saat tutorial. Keputusan ini langsung menjadi trending topic in campus selama 2 minggu awal blok baru. Posisi ini merupakan posisi yang patut dibanggakan dan patut untuk di kupas secara tajam setajam lecron.
Keputusan ini adalah……………………………………………………………………………………………………..........membuat catatan pada buku BM. Apa itu buku BM? Buku BM adalah buku yang berisi catatan belajar mandiri yang dilaksanakan pada saat di luar jam perkuliahan yang akan diperiksa setelah tutorial yang sangat bermanfaat untuk ujian blok dan menambah pengetahuan mahasiswa.
Sayangnya, ada penerimaan yang kurang diharapkan dari mahasiswa yang kurang beruntung karena harus membuat catatan di buku BM.
Catatan di buku BM saat ini belum memiliki aturan baku penulisan. Untuk itu, saya menyarankan agar catatan di buku BM dibuat sesuai kehendak dari si penulis, hal ini dikarenakan catatan di buku BM dikonsumsi sendiri oleh si penulis jadi cukuplah aturan baku penulisan yang dipakai adalah aturan baku yang dimengerti oleh si penulis. Sesuai pepatah dari penulis untuk penulis dan oleh penulis. Oleh karena itu, jangan dipermasalahkan tulisan tangan yang jelek dan tidak beraturan. Menurut beberapa tulisan yang pernah saya lihat, tulisan orang pintar itu seperti dokter dan dokter gigi tulisannya jelek. Jadi, rajinlah menulis catatan di buku BM ^^
 jadi, siapa mahasiswa yang beruntung dan tidak beruntung???

Senin, 01 Agustus 2011

Ceramah Pertama di Bulan Ramadhan


Shalat tarawih di mesjid. Hiruk pikuk di dalam dan di luar, seperti pasar malam. Waktu sholat, masih saja hiruk pikuk ckckckk….tapi Alhamdulillah mejidnya penuh #hari2pertamaramadhan.
Ceramah malam pertama bulan ramadhan disampaikan oleh tetua di kampong ini, orang yang disegani dan berpengaruh di kampong. Terlihat sangat friendly di atas mimbar, menyampaikan ceramah dengan tutur kata yang bersahabat, membawa para jemaah untuk sama-sama meresapi ayat-ayat al-quran yang disampaikan beliau.
Di salah satu sudut mesjid terlihat perempuan tua memperhatikan sang penceramah. Sesekali dia mengangguk-angguk pertanda mengerti, tapi ada tatapan lain bersinar dari mata perempuan tua. Tatapan itu, tatapan cinta dan bangga. Sang penceramah adalah pendamping hidupnya. Susah senang, pahit manis, asam asin lautan telah ditempuh bersama selama 50 tahun.
Malam pertama ramadhan ini, sungguh memiliki arti yang besar baginya. Menyaksikan seorang laki-laki yang tiada berharta hanya hati yang tegar hingga ia bisa melalui hidupnya. Segenap kekuatan melindunginya dan anak-anaknya. Tutur lembut dan bijaksana melewati titah dan silat lidah orang lain. Genggaman erat yang menuntunnya hingga ke mekkah. Persembahan hati yang menyeluruh membuat ia dan sang penceramah menyicipi indahnya masa tua.
Kisah perempaun tua dan sang penceramah tak muluk-muluk untuk dipersembahkan sebuah perayaan 50 tahun pernikahan mereka. Jika ada yang tahu kisah mereka, pasti akan mengerling cemburu pada pasangan tua ini ^^

Minggu, 31 Juli 2011

Jangan Sampai “Robohnya Surau Kami” Lagi

Surau suluk sudah berdiri puluhan waktu yang lalu. Didirikan oleh seorang buya dan teman-temannya. Pengurus surau turun temurun hingga sekarang. Namun, seiring waktu berjalan suau sudah semakin tedup lampunya. Semakin tebal debunya, semakin banyak sarang laba-labanya.
Surau itu diberi nama taslim. Surau ini dibangun dengan sederhana menggunakan kayu. Surau ini berbentuk seperti rumah panggung. Ada menara yang menjulang sekitar 3 meter dari atap bangunan. Surau ini memiliki arsitektur surau minangkabau pada umumnya.
Surau ini terletak diantara kolam dan sawah. Ada sungai kecil yang mengalir di samping surau. Dibelakang surau menjulang bukit. Dari surau akan terlihat jalan aspal yang melintang di kejauhan. Sungguh indah pemandangan dari surau.
Surau ini dilengkapi dapur dan kamar garin yang terpisah dengan surau. Ruangan ini terletak di samping depan surau. Dan kamar ustadz di bawah menara. Dihalaman depan surau terdapat pemakaman keluarga pendiri surau.
Surau ini memiliki tradisi suluk atau disebut juga tasawuf. Banyak terdapat pembatas-pembatas kayu di langit-langit surau. Sekarang peminat suluk sudah berkurang. Mungkin disebabkan oleh berbagai factor salah satunya kepengurusan surau yang sudah mengalami kemerosotan. Hal ini sangat disayangkan, karena ditengah hiruk pikuk globalisasi dan modernasi sangat sulit untuk menemukan surau dengan tradisi suluknya.
Awal ramadhan, surau ini juga memiliki tradisi makan bersama setelah sholat magrib. Ibu-ibu di sekitar surau memberikan nasi dan lauk-pauk ala kadarnya. Setelah makan bersama dilanjutkan dengan sholat Isya dan tarawih. Salah satu tradisi yang masih bertahan juga adalah shalat tarawih 20 rakaat dengan hitungan 2 rakaat sebanyak 10 kali. Sungguh luar biasa, para peserta suluk yang rata-rata adalah lansia melakukan sholat tarawih 20 rakaat. Shalat tarawih tidak dibarengi dengan ceramah agama seperti di mesjid. Di akhir ramadhan juga ada buka bersama di surau.
Suasana di surau ini lain dari yang lain. Sangat tenang dengan wangi yang khas dan suara aliran air sungai kecil di samping surau. Hawa kekerabatan dan suasana minangkabau tempo dulu sangat terasa di surau ini. Surau yang sangat sederhana dengan derit lantai dari papan yang menjerit setiap dilangkahkan. Lampu yang temaram menampakkan bayangan gerakan shalat para jamaah. Membawa setiap jiwa di dalamnya hanyut di dalam sholat yang kusyuk.
Sangat sayang sekali, jika sholat tarawih pertama tidak dilaksanakan di sini.